TIM MANAGEMEN

Motivasi

Oleh: Salamah

PADA suatu malam yang sepi dan dingin, ada sekelompok penyamun yang hendak mengambil harta benda dari masyarakat Islam yang ikut bersama Nabi Muhammad SAW pada saat perang Badar.  Sehari sebelumnya orang-orang kafir Quraisy, mengumumkan akan menghancurkan secara besar-besara kelompok umat Islam yang ikut bersama Nabi Muhammad menyebarkan Islam ke seantero tanah Arab.

Kelompok penyamun, ternyata telah menyusun strategi, pada saat nanti adanya penghancuran umat Islam yang ikut bersama Nabi Muhammad, pula akan melakukan pencurian besar-besaran harta dari Umat Islam yang ikut bersama Nabi Muhammad.

Para penyamun mengira, aka ada perjalanan pada malam hari itu,. Namun, mereka tunggu-tunggu hingga tengah malam, rombongan Nabi Muhammad SAW, tidak kunjung lewat dari jalan yang mereka sudah perkirakan.

Malam makin larut dan dingin pun mulai menusuk. Tat kala penyamun itu berdiri, mereka melihat rumah dikejauhan yang terlihat diterangi lampu. Mereka pun mendekati rumah dikejauhan itu. Dan menemukan sepasang suami – istri dan seorang anak mereka yang terbaring tidak sanggup berdiri, akibat lumpuh yang dideritanya setahun sudah.

Baca juga:   Drs. H.Emil Rosmali,MM,MH

Para penyamun melihat seorang anak terbaring, lalu menanyakan. Sang ayah pun menjelaskan, bahwa anaknya lumpuh. Saat yang bersamaan lelaki ayah si anak bertanya.”Kalian dari mana.” Dijawab oleh pimpinan penyamun, bahwa mereka adalah sekelompok orang yang ikut berperang membela Islam. Mereka berbohon. Tuan rumah tentu menerima kedatangan mereka dan meminta bermalam di rumahnya. Beberapa orang diantaranya menanya di mana ada air untuk berwudu’. Si tuan rumah pun menyiapkannya.

Usai mengerjakan salat, penyamun tidak merasa ada tanda -tanda lewat rombongan Nabi Muhammad dari arah di mana mereka menginap. Maka diputuskan mereka untuk meninggalkan tempat itu. Setelah kepergian para penyamun, suami – istri itu, saling berpandangan dan sang suami mengatakan, bahwa ia akan mengusapkan bekas air wudhu’ para tamu tadi. Ia  berpikir bahwa bekas wudhu’ ini bisa jadi dapat menyebuhkan sakit lumpuh anaknya. Karena mereka adalah orang yang alim. Ia pun mengusapkannya, tak lama kemudian sia anak yang lumpuh bisa beranjak dan berdiri.

Baca juga:   Agus Sarwo Peni

Malam tiba, penyamun tadi ternyata kembali ke rumah mereka dengan tidak memperoleh hasil rampokan, sebab rombongan Nabi Muhahmad ternyata tidak lewat dari sana. Maka mereka terbelalak mendengar bekas wudhu’ mereka dapat menyembuhkan penyakit si anak yang lumpuh. Merekapun menangis tersedu-sedu dan saling berpelukan.

Para penyamun menceritakan kepada keluarga itu bahwa mereka adalah orang jahat yang hendak merampok. Namun, cerita lelaki bahwa karena bekas wudhu’ yang dapat menjadi obat bagi anaknya, membuat hati mereka tersentuh, hidayah datang dan kemudian mereka bertobat, lalu menjadi orang yang tekun beribadah menjadi umat Islam yang selalu melaksanakan ajaran Allah SWT dan ibadah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW hingga akhir khayat mereka.(*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button