NEWS

Satu Hari di Asrama

sitalfurqon.com— Kegelapan yang menyelimuti kamar-kamar asrama sirna digantikan terang lampu yang dinyalakan para mentor. Seruan membangunkan mereka yang masih terlelap menjadi irama tersendiri selama beberapa menit. Derit ranjang pertanda tubuh-tubuh terbangun akhirnya terdengar bersusulan. Secara bertahap tubuh-tubuh setengah sadar itu memasuki kamar mandi. Sisanya menunggu seraya merapikan selimut dan seprai kasur masing-masing. Dari arah kamar mandi, suara kucuran dan deburan air bercampur menjadi satu. Wangi sabun beserta sampo menguar ke segala arah.

Setelah semua memakai seragam lengkap, para santri ikhwan digiring menuju masjid, sementara santri akhwat menuju mushola.  Ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum azan subuh berkumandang. Mereka memanfaatkan waktu tersebut dengan melaksanakan salat Tahajjud dan menghafal beberapa ayat Alquran. Tidak sedikit dari mereka yang masih dihinggapi rasa kantuk. Itu sebabnya tubuh-tubuh bergelimpangan menjadi pemandangan yang bisa kita saksikan pada waktu tersebut. Untungnya mereka yang tertidur itu segera dibangunkan oleh para mentor sehingga ritme kegiatan asrama kembali lancar.

Usai salat Subuh para santri menghafal Alquran dan menyetorkannya kepada mentor kamarnya masing-masing. Kegiatan tersebut berakhir pada pukul 06.00 dilanjutkan dengan sarapan. Barulah pada pukul 06.30 atau lebih mereka benar-benar meninggalkan asrama untuk melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah.

Baca juga:   20 Tahun SIT Al Furqon Palembang, Mengabdi untuk Negeri

Para santri yang masih duduk di bangku SMPIT Al Furqon  kembali ke asrama pukul 16.00. Sedangkan mereka yang SMAIT Al Furqon Palembang  kembali pada pukul 17.00. Mereka pulang dengan roman muka yang berbeda-beda. Ada yang terlihat bahagia dan semangat, ada yang tampak lesu dan murung, ada pula yang datar dan tenang. Wajah-wajah itu kembali ke asrama dengan membawa ceritanya masing-masing. Cerita yang kemudian akan dibagi dengan penuh antusias saat berkumpul bersama teman-temannya di kamar, maupun cerita yang pada akhirnya hanya akan disimpan dan dikenang sendirian.

Para santri ikhwan sedang membaca surah Al Baqarah berjamaah yang dipimpin ustadz mentor di Asrama SIT Al Furqon Palembang. Foto: Akasia Shabir

Mereka makan malam pukul 17.15 hingga pukul 17.40. kemudian disambung dengan melaksanakan kegiatan zikir Alma’surat dan membaca surat Al-Baqarah berjamaah sampai azan Magrib berkumandang menyusul meredupnya Sang Mentari menutup kisah hari ini.

Ba’da Magrib, mereka belajar tahsin hingga menjelas Isya. Tepat pukul 20.00, mereka melaksanakan pembelajaran kitab sampai pukul 21.30. Setelah memberesi perlengkapan belajar dan urusan masing-masing, mereka beranjak tidur.

Baca juga:   Doa Sambut Ramadan Sesuai Sunnah: Arab, Latin, dan Terjemahan

Semua ini memang bukan keseluruhan dari cerita mereka di asrama. Masih ada sederet cerita mereka yang patut untuk dikisahkan. Tapi setidaknya, begitulah satu hari dibuka dan ditutup di Asrama SIT Al Furqon Palembang.

“Asrama mengajarkan saya arti kemandirian dan perjuangan tanpa kenal lelah. Tidak mudah menggapai cita-cita. Itu sebabnya para mentor kami (Ustadz dan Bunda) mengajarkan dan menggembleng kami untuk menjadi pribadi yang tangguh, tidak cengeng, dan bersedia menjalani setiap proses menuju sukses, baik dunia maupun akhirat,” tutur Sheryl Syfa Nabila, santriwati penghuni kamar Siti Khodijah binti Khuwailid, sekaligus siswi SMA IT Al Furqon Palembang kelas X.

Sementara itu, Kepala SDIT Al Furqon, Ustadz Zakiudin berkomentar, “ Masya Allah keren, dari cerita ini tergambar betul kehidupan yg berat tapi penuh nikmat, kehidupan yang selalu dinaungi sayap-sayap malaikat yang tidak hanya untuk mereka para santri tapi juga untuk para orangtua-nya yang rela mengubur rindu demi pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya”. (*)

 

Reporter : Akasia Shabir

Editor       : Aspani Yasland

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button