NEWS

Kelas II Sa’ad bin Abi Waqqash SDIT Al Furqon Palembang, Inilah Kisah Sahabat Rasululllah  

sitalfurqon.com—  Mafhum kiranya penamaan ruang kelas di kalangan Sekolah Islam Terpadu (SIT) seringkali mencamtumkan nama-nama sahabat Rasulullah Saw yang terkenal dan termasyhur dalam sirah nabawwiyah, termasuk di lingkungan SIT Al Furqon Palembang. Diantara nama-nama sahabat tersebut ada nama yang tak asing lagi dan kisahnya kerap terdengar dalam ceramah-ceramah para ulama yakni Sa’ad bin Abi Waqqash. Lalu siapa sosok sahabat Nabi Muhammad SAW ini, yang juga nama Kelas II Sa’ad bin Abi Waqqash SDIT Al Furqon ini?

Perjuangan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash dalam Islam tak diragukan lagi. Sa’ad adalah seorang pemanah ulung. Dari sejarah pertempuran Islam, Sa’ad adalah orang pertama yang melepaskan panahnya ke arah musuh. Musuh pertama yang ia lukai adalah ‘Ubaid bin Harits. Di sisi lain, Sa’ad pula yang pertama kali terluka karena busur panah dari tembakan musuh.

Selain menjadi panglima perang besar Islam, diceritakan juga bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash adalah da’i Islam pertama yang menyebarkan Islam di daratan China.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah seorang sahabat yang memperoleh jaminan surga dari Nabi Muhammad SAW, dan jasanya sangat besar dalam Islam.

Selanjutnya, kisah keislaman Sa’ad juga menjadi asbabul nuzul (sebab turunnya ayat) dari turunnya Surah Luqman Ayat 14-15. Dalam kedua ayat tersebut, Allah Swt membenarkan sikap Sa’ad bin Abi Waqqash terhadap desakan ibunya yang menyuruh murtad. Ayat 14-15 tersebut berbunyi :  “Dan jika keduanya [orang tua] memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik … ,” (QS. Luqman [31]: 15).

Kisahnya sebagai-berikut : Ketika Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa beliau diutus menjadi nabi dan rasul, Sa’ad bin Abi Waqqah, yang saat itu berusia 17 tahun menyambut hidayah Islam. Ia termasuk bagian dari kelompok awal yang menerima dakwah Rasulullah atau golongan Assabiqun Al-Awwalun.

Ketika pertama kali masuk Islam, cobaan keimanan yang diterimanya berasal dari ibunya sendiri. Sang ibu yang bernama Hamnah tidak suka ketika Sa’ad masuk Islam. Cara yang digunakan ibunya untuk membujuk Sa’ad murtad dari Islam adalah mogok makan berhari-hari. Melihat ibunya yang kian letih karena kelaparan, Sa’ad bin Abi Waqqash menyatakan dengan santun agar ibunya tidak memaksanya kembali ke agama lamanya. Ia pun berkata pada ibunya:

“Wahai ibu, demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa ibu meninggal, aku tidak akan meninggalkan agama ini [Islam] sedikit pun. Makanlah, Wahai Ibu, jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu.”

Baca juga:   Tiga Nasehat Berharga dari Sa'ad bin Abi Waqqash untuk Anak-Anak

Melihat keteguhan hati Sa’ad bin Abi Waqqash, ibunya pun menghentikan aksi mogoknya dan berusaha menerima keputusan anaknya. Kisah ini terpatri dalam Alquran.

Nama lengkap sahabat nabi ini adalah Sa’ad bin Abi Waqqash Malik bin Wuhaib bin Abdul Manaf bin Zuhrah bin Kilab Al-Qurasyi Al-Zuhri. Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad melalui kabilah Zuhrah.

Ia dilahirkan di Kota Mekkah pada tahun 595 M. Sa’ad merupakan keturunan dari Bani Zuhrah tepatnya suku Quraisy dan orang tuanya sangat dihormati oleh kaumnya tersebut. Bahkan, Nabi Muhammad pernah mengungkapkan bahwa Sa’ad adalah pamannya yang beliau SAW banggakan.

“Ini dia pamanku! Siapa orang yang punya paman seperti pamanku ini?” ujar Rasulullah SAW.  Sa’ad merupakan paman Rasulullah SAW dari pihak ibu, Aminah binti Wahhab.

Bersama Nabi Muhammad SAW, Sa’ad hampir mengikuti semua perang untuk menegakkan Islam. Karena kepahlawanannya itulah, selepas Rasulullah SAW meninggal, Umar mengangkat Sa’ad sebagai panglima perang untuk ekspansi Islam ke Persia melalui Perang Qadisiah.

Siswa Kelas II Sa’ad Abi Waqqash tengah istirahat siang.

 

Kemenangan Sa’ad ini menjadi pintu masuk dakwah Islam di Persia. Tidak hanya ke Persia, dakwah Islam yang dipimpin Sa’ad juga merambah ke dataran China, sebagaimana dilansir dari buku Perkembangan Islam di Tiongkok (1979) yang ditulis oleh Ibrahim Tien Ying Ma.

Di Cina, Sa’ad bin Abi Waqqash disambut baik oleh Kaisar Cina Yong Hui dari Dinasti Tang. Salah satu peninggalan dakwah Sa’ad bin Abi Waqqash di China adalah bangunan masjid agung bernama Masjid Huaisheng alias Masjid Sa’ad bin Abi Waqqash di Provinsi Guangzhou. Masjid Sa’ad ini juga dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Cina.

Semasa perang berlangsung, Sa’ad bin Abi Waqqash tidak pernah mengeluh terhadap situasi yang tengah dihadapinya. Rasa bertanggung jawab Sa’ad dalam membela agama Islam pun terlihat pada Perang Qadisiyah, salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Saat itu, Sa’ad dipercaya oleh Umar bin Khattab untuk memimpin pasukan muslim dalam penaklukan Perang Qadisiyah di Persia. Namun, diketahui Sa’ad dalam kondisi sakit hingga hampir seluruh tubunya dipenuhi bisul-bisul yang menyakitkan.

Rasa sakit yang dideranya tidak cukup kuat untuk mengalahkan ambisinya dalam membela agama Islam. Meskipun banyak menelan korban jiwa dalam perang tersebut, namun pasukan yang dipimpin Sa’ad tersebut berhasil meraih kemenangan.

Tentu saja hal ini membuat Sa’ad bin Abi Waqqash menjadi salah satu sahabat yang dicintai Rasul. Bukti besar kecintaan Rasulullah kepada Sa’ad bin Abi Waqqash adalah sebagai berikut.

Baca juga:   Update Donasi Pray For Palestina SIT Al Furqon Palembang Rp 160 Juta Lebih

Sa’ad dikenal sebagai orang yang ahli memanah dan orang yang selalu dikabulkan doanya. Hal tersebut dapat terjadi karena doa dari Rasulullah SAW kepada Sa’ad.

Dikisahkan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Ariany Syurfah, Salah seorang sahabat perempuan Rasul, Ummu Aiman, tengah memberi minuman kepada para pasukan yang terluka saat perang.

Secara tiba-tiba, salah seorang kafir memanah Ummu Aiman hingga ia terjatuh dan auratnya terbuka. Saat melihat peristiwa tersebut, Rasulullah SAW kemudian mengambil anak panah dan berkata pada Sa’ad:

“Wahai Sa’ad, lemparlah anak panah ini! Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.”

Rasulullah menyebut ayah dan ibunya saat meminta sesuatu kepada Sa’ad, hal yang tidak pernah Rasul lakukan sebelumnya pada orang lain. Akhirnya anak panah yang dilemparkan Sa’ad tepat sasaran dan Rasulullah pun tersenyum melihatnya.

Kisah tentang Sa’ad bin Abi Waqqash dan doanya yang selalu terkabul sudah terdengar di berbagai penjuru. Dikutip dari buku Kisah-kisah Indah Kelembutan Allah karya Sayyid Uthwah, tidak sedikit orang yang langsung merasa takut dengan doa Sa’ad.

Tokoh Tabi’in, Said bin Al-Musayyib bercerita saat ia tengah duduk bersama Sa’ad bin Abi Waqqash, datanglah seorang laki-laki bernama Al-Harits bin Barsha dari pasar. Ia berkata:

“Harta ini adalah harta kami, kami berikan kepada siapa pun yang kami kehendaki.”

Mendengar hal itu, Sa’ad pun berkata sambil menengadahkan tangannya, “Apa aku harus berdoa?”

Marwan seketika loncat lalu merangkul Sa’ad dan berkata:

“Demi Allah, janganlah engkau berdoa. Harta itu adalah harta Allah, bukan harta kami.”

Kisah tersebut menjadi bukti kekuatan doa Sa’ad yang selalu dijabah oleh Allah SWT.

Dari ciri fisiknya, Sa’ad bin Abi Waqqash berpostur agak gemuk, tidak terlalu tinggi, dan rambutnya lebat, namun dipotong pendek. Ia dikenal sebagai sosok yang serius dan pakaian favoritnya adalah mantel bulu.

Sa’ad bin Abi Waqqash wafat di rumahnya di daerah Atiq yang berjarak beberapa kilometer dari Madinah. Kendati ia adalah sahabat nabi yang memiliki banyak kemuliaan, tidak semua orang menyukainya.

Diceritakan bahwa Sa’ad meninggal karena diracun. Ketika ia meninggal, harta yang ia tinggalkan sebanyak 250.000 dirham. Jenazah Sa’ad bin Abi Waqqash dimakamkan di pemakaman Baqi, kawasan tempat para sahabat Nabi Muhammad SAW dimakamkan. [Berbagai sumber]

Editor : Aspani Yasland

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button