NEWS

Mewujudkan Generasi Emas yang Tangguh dan Berjiwa Islami  Oleh Ustadz Zakiudin

sitalfurqon.com — Berbicara tentang generasi emas, tentulah kita akan membahas tentang manusia yang berusia kurang lebih 17 sampai 40 tahun. Secara pemikiran masih fresh dan berkembang, secara fisik sedang sehat dan gagah-gagahnya. Maka tidak salah ketika Tokoh Proklamator Bung Karno berkata: “Berikan aku seribu orang tua, akan aku cabut Semeru dari akarnya, berikan aku satu pemuda, akan aku goncangkan dunia”.

Beberapa abad yang lalu, Rasulullah SAW telah memberikan contoh nyata, bagaimana peranan para pemuda emas yang bisa mewujudkan masa-masa kejayaannya baik dari sisi pemerintahan, keamanan, ekonomi sosial dan lain sebagainya, seperti Ali bin Abi Thalib ra yang rela bertaruh nyawa menggantikan posisi Rasulullah di atas tempat tidur tatkala peristiwa Nabi Muhammad Saw hendak hijrah ke Madinah. Pemuda Ali bin Abi Thalib  tidak hanya sebagai sahabat, sepupu, tapi juga ia menjadi menantu yang dinikahkan dengan putri kesayangannya Fatimah Azzahra.

Sahabat yang bernama Mus’ab bin Umair ra pemuda yang rela meninggalkan semua fasilitas kemewahan dunia hanya demi mendapatkan kecintaan Allah dan Rasul-Nya, sehingga Ia menjadi diplomat ulung pertama di zaman Rasulullah pada usia yang sangat muda. Pemuda emas selanjutnya adalah Usamah bin Ziyad ra,  diusianya yang baru menginjak 18 tahun sudah mampu menjadi panglima perang menggantikan Khalid bin Walid ra, yang saat itu dijuluki Pedang Allah, Panglima yang sangat disegani.  Abdurrahman bin Auf ra seorang ekonom handal dan masih banyak lagi sahabat lainnya. Bahkan bagaimana kisah yang diabadikan didalam Alquran tentang Pemuda Ashabul Kahfi, tujuh orang pemuda yang rela menentang kemungkaran dan kezaliman sehingga mereka menjadi buronan penguasa dan tertidur selama 300 tahun didalam gua.

Baca juga:   Ustadz Mulya Sujana, SPd Khotbah Jumat di Masjid SIT Al Furqon Palembang : Lima Kreteria Pemuda Ideal dalam Islam

Generasi emas akan hadir jika dipersiapkan dengan matang, konsep pendidikan yang diterapkan mengarahkan peserta didiknya menuju terwujudnya tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sistem pendidikan yang akan mengantarkan terwujudnya generasi emas yang tangguh dan islami sesuai dengan harapan tujuan Pendidikan Nasional tersebut, tentulah sistem pendidikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yaitu kembali kepada Alquran dan Sunah.

Salah satu contoh grand design pendidikan yang diabadikan di dalam Alquran adalah kisah pendidikan yang diterapkan oleh Luqman. “dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Luqman memberikan pendidikan pertama adalah menanamkan keimanan (Tauhid/Akidah) kepada anaknya. Sehingga ia tidak meninggalkan generasi yang lemah secara akidah. Kemudian Luqman mengajarkan kepada anak-anaknya tentang akhlak, bagaimana berbuat baik kepada kedua orang tua walaupun seandainya sudah tidak satu akidah, tetapi akhlak kepada orang tua tetap dijaga.

Baca juga:   Kunjungan Edukatif Bersama Gubernur

Bagaimana Mus’ab bin Umair ra menghadapi rongrongan orang tuanya yang sampai tidak mau makan berhari-hari demi membujuk anaknya meninggalkan ajaran Rasulullah. Tetapi akhlak Mus’ab tetap terjaga kepada ibunya sehingga tidak menyakiti perasaan orang tuanya dan akidahnya tidak tergoyah. Setelah dua konsep utama pendidikan telah tercapai kepada anaknya, kemudian Luqman menanamkan tentang konsep muamalah. Luqman berkata: “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya)”.

Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 13-18) []Penulis adalah Kepala SDIT Al Furqon Palembang

 

Editor : Aspani  Yasland

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button