NEWS

Tiga Nasehat Berharga dari Sa’ad bin Abi Waqqash untuk Anak-Anak

sitalfurqon.com — Sahabat Saád bin Abi Waqqash adalah satu diantara 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Sa’ad bin Abi Waqqash telah memeluk Islam ketika berusia 17 tahun. Dia tergolong ke dalam orang-orang yang pertama masuk Islam atau Assabiqunal Awwalun.

Oleh sebab itu, maka tak diragukan lagi dengan amal-amal kebaikan yang dilakukan oleh beliau. Termasuk nasehat -nasehat yang beliau sampaikan pun sangat berharga.

Diantaranya adalah nasehat Sa’ad bin Abi Waqqash kepada anak-anaknya. Beliau adalah sosok sahabat yang sangat memperhatikan anak-anaknya. Sehingga tak pernah bosan dalam menyampaikan nasehat kebaikan terhadap anak-anaknya.

Tiga nasehat Sa’ad bin Abi Waqqash pada anak-anaknya ini masih membekas di kalangan umat Islam. Tiga nasehat ini terus diingat dan dijadikan teladan bagi umat Islam. Tiga nasehat Sa’ad bin Abi Waqqash pada anak-anaknya :

1.Berwudhu yang Baik Ketika Akan Salat

Kalau  kamu  salat maka berwudhulah yang baik. Tunaikan shalat seolah-olah ini salat terakhirmu sebelum menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pelajaran berharga yang dipetik dari nasehat itu adalah hendaklah kita tidak meremehkan wudhu dan salat. Keduanya saling berkaitan satu sama lain.

Seseorang yang menyepelekan wudhu bisa mengakibatkan wudhunya batal atau tidak sah. Kalau wudhunya tidak sah atau batal maka salatnya juga tidak sah. Demikian pula dalam mengerjakan salat.

Seseorang yang menganggap kalau salatnya ini yang terakhir maka pasti akan berusaha secara maksimal, lebih khusyuk dan yang terbaik. Hal ini harus ditanamkan pada diri kita, keluarga termasuk anak-anak kita agar senantiasa menjaga wudhu dan salat agar tetap sesuai dengan syariat Islam yang benar.

2.Jangan Rakus

Jangan menjadi anak yang kepinginan apa yang dimiliki orang lain. Orang yang rakus itu sebenarnya orang yang miskin karena merasa kurang.

3.Jangan Melakukan Sesuatu sehingga Harus Meminta Maaf

Sebelum melakukan sesuatu maka pikirkan terlebih dahulu. Pikirkan dampaknya terhadap orang lain. Kalau yang akan kita lakukan itu ternyata merugikan orang lain, membuat orang marah, jengkel maka lebih baik dihindari.

Pelajaran yang diambil adalah ketika akan melakukan sesuatu hendaknya memikirkan orang lain. Dengan begitu kita lebih berhati-hati dan akan lebih selektif dalam melakukan sesuatu. Apalagi kalau hal itu berhubungan dengan orang lain.

Tiga nasehat berharga dari Sa’ad bin Abi Waqqash ini tentu bisa menjadi bahan pilihan bagi kita saat memberikan nasehat pada anak-anak kita. Tiga point penting yang harus dipahami dan dijadikan fondasi yang kuat dalam mendidik anak-anak kita.

Baca juga:   Pengelola sitalfurqon.com Ikuti Pelatihan Jurnalistik

Keutamaan Sa’ad bin Abi Waqqash

Beliau termasuk golongan yang lebih dahulu masuk Islam. Beliau masuk Islam ketika berusia 19 tahun. Sa’ad bin Abi Waqqash terlibat dalam perang Badar dan Uhud. Ia termasuk kalangan yang bertahan pada Perang Uhud.

Beliau hijrah ke Madinah sebelum kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sa’ad bin Abi Waqqash adalah orang pertama yang melesakkan anak panah di jalan Allah, ia dikenal sebagai ahli memanah yang jitu. Sa’ad bin Abi Waqqash adalah farisul Islam (penunggang kuda yang piawai).

Sa’ad mengikuti perang penaklukan Iraq, memimpin pasukan melawan Persia, menjadi komandan pasukan Perang Qadisiyah, lalu diangkat menjadi gubernur Kufah di masa Utsman (tetapi dimutasi pada tahun 25 H).

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah satu dari enam orang yang dipilih oleh Umar untuk mengadakan musyawarah penetapan khalifah pengganti Umar. Sa’ad itu dikenal mustajab doanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakannya, “Ya Allah, kabulkanlah doa Saad ketika ia berdoa kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Sa’ad bin Abi Waqqash tidak mengikuti perselisihan yang terjadi pada berbagai pihak setelah terbunuhnya Utsman, dan menyuruh keluarganya untuk tidak memberitahukan kepadanya tentang apa pun yang terjadi di antara pihak-pihak yang terlibat dalam perselisihan sampai umat Islam sepakat pada satu imam.

Diriwayatkan dari ‘Ali yang mengatakan, “Aku tidak pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan jaminan bagi seseorang setelah Sa’ad. Aku mendengar beliau bersabda kepadanya: “Lesakkan anak panah dan ibuku jaminanmu (ungkapan penegasan).” (HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, yang menuturkan, “Kala Sa’ad datang, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ini pamanku, hendaknya orang memperlihatkan kepadaku siapa pamannya (khalah, paman dari jalur ibu).” (HR. Tirmidzi)

Dalam perjalanan hidupnya, secara pribadi beliau pernah difitnah dan dilaporkan oleh penduduk Kuffah kepada Umar bin Khattab. Sebagai Gubernur pertama Kota Kuffah-Irak, beliau dituduh buruk cara shalatnya. Khalifah lalu memanggil Sa’ad untuk dimintai keterangan. Mendengar laporan tersebut, Saad tertawa. Kemudian ia menanggapi tuduhan tersebut dengan mengatakan, “Demi Allah, sungguh aku shalat bersama mereka seperti shalatnya Rasulullah. Kupanjangkan dua rakaat awal dan mempersingkat dua rakaat terakhir”.

Baca juga:   Kelas II Sa'ad bin Abi Waqqash SDIT Al Furqon Palembang, Inilah Kisah Sahabat Rasululllah  

Sa’ad juga pernah menerima berita fitnah dari seorang pemuda tentang tuduhan kejelekan; Ali, Thalhah, Zubair. Beliau tidak merespon berita fitnah itu. Sebaliknya beliau mencegah agar berita fitnah itu tidak menyebar luas. Rupanya pemuda penyebar berita fitnah itu tak sadar dengan larangan Sa’ad bin Abi Waqqash dan menyebarkan berita bohong itu secara massif.

Agar tidak timbul gejolak, Sa’ad bin Abi Waqqash berdoa kepada Allah: “Ya Allah, jika engkau tahu ada seorang pemuda yang telah berani mencaci pemuka-pemuka Islam yang jelas banyak kebaikannya itu, maka berikanlah pelajaran bagi dirinya.” Doa sahabat yang dikenal paling mustajab di antara sahabat-sahabat Rasulullah inipun dikabulkan Allah Swt.

Tak berselang lama, tiba-tiba datang onta mengamuk melabrak apa saja yang ada di depannya. Onta itu menerjang pemuda yang sedang asyik menebar fitnah di tengah kerumunan massa. Pemuda itu diinjak-injak onta yang mengamuk tanpa ada seorangpun yang dapat menolongnya hingga mati terkapar. Hal itu berkat do’a Sa’ad bin Abi Waqqash yang tak rela jika umat Islam ditenggelamkan berita fitnah.

Jangankan pendirian Sa’ad bin Abi Waqqash goyah terpengaruh berita fitnah, dalam satu riyawat disebutkan bahwa laut saja tak mampu menenggelamkan dirinya. Pada saat beliau dikirim khalifah Umar bin Khattab bersama pasukan Islam ke kota Qudsiyyah (terletak di antara Hilian-Kufah), terjadi peristiwa aneh. Beliau bersama pasukannya mampu melintasi teluk Persia dengan cukup mengendarai kuda.

Sa’ad masuk Islam setelah mendengar dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sa’ad menyatakan keislamannya bersama beberapa orang sahabat nabi lainnya yakni Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Sa’ad bin Abi Waqqash wafat pada tahun 55 Hijriyah menurut pendapat yang paling sahih, dalam usia 87 tahun.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah orang terakhir yang wafat di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Dia menjadi panglima perang di masa kenabian. Sa’ad juga diangkat menjadi amir atau setingkat gubernur di Irak di masa Khulafaur Rasyidin.[Berbagai sumber]

Editor : Aspani Yasland 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button