EDUCATION

Guru yang Cerdas, Adalah Mereka yang Adil dan Bijaksana

Seorang guru harus memiliki sikap adil baik kepada sesama pendidik maupun peserta didik

Sitalfurqon.com – Pelajaran utama bagi seorang guru adalah adil dan bijaksana. Apa itu adil dan bijaksana? Pengertian adil, sama berat; tidak berat sebelah; tidak memihak atau menempatkan sesuatu pada tempatnya, dalam artian tidak boleh mengurangi hak orang lain dan jangan melebihkan hak kita. ( kbbi .web .id/ adil- 2021).

Seorang guru harus memiliki sikap adil baik kepada sesama pendidik maupun peserta didik. Karena tidak semua orang bisa menerima apa yang keluar dari ucapan guru.

Dan hal yang akan terjadi adalah kecemburuan sosial yang bisa menyebabkan perpecahan dan bisa merngganggu proses pembelajaran. Oleh karena menjadi pendidik yang adil sangat di perlukan dan perlu di pelajari dari sejak dini.

Adapun langkah langkah menjadi guru yang adil diantaranya: Mengenali psikologi obyek (pendidik dan peserta didik). Mengetahui masalah dan konflik yang terjadi dan dalam Pengambilan keputusan/ haruslah bijaksana. Imam Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan: “Disebutkan dalam kitab Kaliilah wa Dimnah: ‘Orang yang bijak tidak menjadi sombong karena kedudukan dan kebesaran…(muslimah .or .id)

Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus bijaksana. Apa itu bijaksana? Bijaksana adalah sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dan peristiwa sehingga memancarkan keadilan , ketawaddluan dan kejernihan hati. Selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; dan pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dan sebagainya) apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. (kbbi.web. id/bijaksana.-2021)

Menjadi guru memang sulit untuk bijaksana karena pada hakikatnya guru di gugu dan ditiru jadi setiap kata perkata guru pasti di contoh dan ditiru peserta didik. Oleh karenanya kebijakan guru sangat berpengaruh pada kebaikan dan kecerdasan peserta didik. Guru harus mengenal potensi peserta didik akan pengalaman, pengakuan dan dorongan. Guru harus mengerti apa yang di butuhkan peserta didik dan apa yang harus dihindari saat pembelajaran, terlebih tentang konflik yang sedang dihadapi oleh peserta didik. Disinilah kebijaksanaan guru dibutuhkan untuk memecahkan konflik yang terjadi pada peserta didik.

Oleh karena itu mari menjadi guru yang adil dan bijaksana semata memudahkan proses pembelajaran. Sebaik baiknya guru adalah guru yang bisa memahami dan menyeimbangi kebutuhan peserta didik, bukan karena gaji semata

Kepribadian merupakan faktor penting pendidik dalam menjalankan profesinya. Kepribadian pendidik, menurut Hans Eysenck,   seorang psikolog terkenal yang memakai pendekatan behaviorisme dalam melihat kepribadian manusia, menyebut kepribadian sebagai faktor  yang  membentuk pola karakter dari seseorang. Dan, pola tersebut tentunya akan relatif menetap pada diri seseorang.

Sosok Bijak dan Adil

Salah satu bentuk kompetensi kepribadian yang penting dari pendidik adalah menjadi sosok yang bijak. Menjadi sosok yang memiliki kepribadian bijak dapat terlihat dari beberapa indikator penting dari seorang pendidik. Pertama, pendidik yang mampu menampilkan perilaku berdasarkan asas manfaat bagi peserta didik, sekolah, dan masyarakat. Pendidik yang bijak akan mengutamakan kepentingan peserta didiknya sehingga mereka dapat menjadi sosok yang berhasil dan sukses . Untuk bersikap bijak, secara teoritis, hampir setiap orang atau pendidik mengetahuinya, akan tetapi, tidak semua dapat melakukannya. Tindakan seorang pendidik yang bijak adalah bagaimana dia dapat menunjukkan perilaku yang memberikan manfaat untuk orang-orang yang ada disekitarnya, terutama anak-anak didiknya.

Baca juga:   Guru, Jangan Sampai Ditakuti Tetapi Disegani

Kedua, pendidik mampu menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. Pola pikir terbuka dan bertindak secara baik dari sosok pendidik menjadi satu keharusan. Hal ini agar pendidik dapat secara terus menerus bersedia mengembangkan dirinya, diapun terbuka dalam berfikir dan bertindak akan membantunya untuk menerima diri, baik itu kelebihan maupun kekurangannya.

Bijaksana berasal dari kata hakama-yahkumu-hukman-wahikmatan yang berarti teliti, bijak atau arif. Guru yang bijaksana adalah guru yang mampu mengendalikan dirinya dengan baik. Segala tingkah lakunya mencerminkan sosok yang arif dan bijaksana sehingga dapat dipercaya oleh murid-muridnya. Luhur budinya dan lurus ucapannya. Guru yang bijak memandang muridnya sebagai bagian takterpisahkan darihidupnyakarena itu ia memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Ia tidak menganggap mereka sebagi orang lain, tetapi ia menganggap mereka sebagai orang yang memperkaya perbendaharaan jiwanya. Kepada murid hendaklah  guru bersikap lembut penuh kasih, dan ada saatnya guru harus bersikap tegas kepada murid-muridnya.

Hans Eysenck  menyebut keberhasilan guru dalam mendidik murid, haruslah professional dengan memiliki 4 (empat) kompetensi yang tidak boleh terabaikan, yaitu kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi profesional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Guru berlaku Adil ( yakni Tidak Pilih Kasih), Secara etimologis, adil berasaldari kata dasar ‘adala-ya’dilu-‘adlan yang berarti tegak atau lurus, berpindah dari posisi yang salah menuju posisi yang benar. Adil juga berarti seimbang (balance) dan setimbang (equilibrium). Berdasarkan makna di atas, adil memiliki basis ilahiyah, berakal dan moralitas, sehingga prinsip pertama keadilan adalah persamaan manusia di hadapan Allah serta dalam kehidupan social.

Mampu Menjadi Suri Tauladan, Guru adalah sumber keteladanan. Sosok guru tidak hanya tercermin dalam kesederhanaan mereka berpakaian, bertutur kata, tapi juga tercermin dalam perilaku sehari-harinya. Dalam filosofi Jawa guru harus bisa digugu dan ditiru, digugu berarti perkataannya didengar, ucapanya disimak, dan ditiru artinya perilakunya dapat dijadikan panutan dan teladan. Guru tidak hanya dituntut untuk menjadi orang yang baik, tetapi harus mampu menjadi sosok yang terbaik, artinya dia mampu menjadikan dirinya sebagai sosok yang pantas diteladani. Sesungguhnya murid lebih butuh kepada figur yang mampu memberikan bimbingan moral, oleh karena itu keteladanan menjadi faktor signifikan dalam rangka menciptakan anak didik yang unggul dan mumpuni. (Profil Ideal Guru Pendidikan Agama Islam, karya Dr. Imam Tholkhah-2012)

Murid Laksana Diri Sendiri

Bijaksana dalam arti Memiliki Kesabaran, Selain teladan dan keijaksanaan, guru juga dituntut untuk memiliki kesabaran. Kesabaran dibutuhkan bagi seorang guru dalam proses belajar mengajar. Kesabaran juga diperlukan ketika menghadapi murid yang tingkat kecerdasannya agak rendah. Guru harus sabarmembimbing, mengarahkan dan memberi motivasi kepadanya agar dia tumbuh seperti murid-murid lainnya. Sabar tidak berarti membiarkan sesuatu yang batil terus berjaya, tetapi kesabaran adalah kondisi psikologis yang selalu mengajak kepada pelakunya untuk mengatakan bahwa yang benaritu benar dan yang salah itu adalah salah.

Tidak Suka Marah, Sikap marah sangatlah manusiawi, tetapi marah tidak lagi manusiawi ketika berubah menjadi sebuah hobi atau kebiasaan. Kebiasaan marah harus dihindari dan bahkan kalau bisa dijauhi sejauh-jauhnya, sebab kemarahan tidak pernah menyelesaikan masalah, yang ada malah menambah persoalan baru. Kendati demikian bukan berarti marah itu tidak boleh sama sekali, asalkan dilakukan secara proporsional dan karena alasan logis, sebab marah yang dilakukan tanpa alasan yang jelas akan menimbulkan sikap antipati di kalangan murid, yang akan mengakibatkan komunikasi tidak akan dapat terjalin dengan baik. Orang yang mampu menahan marah adalah orang kuat dalam arti yang sesungguhnya, sesuai sabda Nabi SAW, “Orang yang kuat bukanlah orang-orang yang kuat bergulat, tetapi orang yang kuat sebenarnya adalah orang yang mampu menahan amarahnya (emosinya).” [HR. Bukhari Muslim]

Baca juga:   Mendidik Anak Sesuai dengan Ajaran Islam

Mampu Memberi Motivasi, Guru yang baik adalah guru yang mampu memberi motivasi kepada murid-muridnya agar menjadi anak yang berjiwa positif. Memberi motivasi merupakan kewajiban tak tertulis bagi seorang guru terhadap muridnya. Guru yang pintar memberi motivasi akan tampil penuh dengan semangat dan percaya diri. Selain orang tua, orangyangpaling tepat untuk melakukan intervensi dan motivasi kepada anak-anak adalah guru, sebab guru adalah orang tua kedua setelaah orang tua kandung, bahkan sebagian murid lebih terbuka kepada guru dibandingkan dengan kepada kedua orang tuanya, sebab dengan guru mereka lebih leluasa menuangkan segala permasalah dan isi hati mereka.

Menegur Dengan Bijak, Teguran perlu diberikan kepada anak didik. Teguran diperlukan agar mereka tidak terlena dalam kesalahan yang dilakukan. Tapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa teguran itu harus dilakukan dengan cara yang baik dan bijak. Sebab teguran yang dikeluarkan secara sembarangan akan menimbulkan sakit hati kepada yang bersangkutan. Pada saat menegur, seorang guru harus mengutarakan alasan yang rasional dan dengan menggunakan cara yang elegan.

Guru yang baik akan memberikan teguran dengan cara yang baik, dan tidak menegur anak didiknya di depan teman-temannya atau di tempat umum. Ada beberapa indikasi yang dapatdijadikan standar apakah teguran yang diberikan kepada anak didik berhasil atau tidak. Diantaranya adalah teguran tersebut bisa diterima dengan hati yang lapang, teguran dapat membuat seorang murid menyadari kesalahannya, bisa membuat murid berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi, teguran itu tidak menyinggung perasaannya, tidak melukai harga diri. Sesuai firman Allah SWT, 125. “ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Kata Bukhori dalam salah satu hadist, hendaklah guru Dengan Cara Yang Menyenangkan dalam menyayangi muridnya.  Sebagai pendidik yang baik dan bijak, seorang guru tentu akan memberikan perintah kepada murid denga cara yang menyenangkan. Dalam memerintah guru juga harus mempertimbangkan kemampuan dan kondisi muridnya, tidak diskriminasi, pemlomcoan dan pemaksaan. Seorang guru yang bijak tidak boleh memerintah secara over. Juga tidak diperkenankan memberi perintah yang tidak perlu, sebab mereka akan belajar banyak dari sikap dan perilaku yang diajarkan gurunya. Guru begitu lengkap dan perfect.(*)

Penulis: Ir. Salamah Syahabudin, MP, C.GR

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button