ARTIKEL

Islam Adalah Agama Terbesar di Dunia, Maka Lestarikanlah

Tiada agama yang lebih mulia kecuali Islam

Sitalfurqon.com – TAK banyak yang tahu bahwa suatu masa akan dianggap orang banyak Islam itu aneh sehingga banyak hukum-hukum Islam ditentang, karena mereka menganggap bahwa tidak sesuai dengan akal pikirannya. Itu bagi yang berpikir tidak lurus dengan hati dan jiwanya. Masa yang penuh dengan persoalan ini ada saja sahabat Rasulullah pada masa lalu, mengemukakan pernyataan yang tidak dimengerti oleh para sahabat yang memiliki keilmuan. Sehingga mereka harus secara seksama mendengar dan mengulangi lagi uangkapan Rasulullah itu.

Saat itu, Rasulullah SAW bersabda : “ Islam pada masa datangnya dianggap Aneh dan suatu saat akan di anggap kembali Aneh, maka berbahagilah orang orang yang di anggap Aneh itu,”. Lalu, sahabat bertanya : “Siapakah mereka yang dianggap orang Aneh  itu ya Rasulullah  ?.” Dengan pelan Rasulullah menguraikan menjawabannya; “Mereka adalah orang orang yang masih memegang Sunnahku dikala umat sudah banyak yang rusak.”. Ghuroba’ atau yang di anggap orang aneh itu adalah  :”Mereka yang serius untuk akhirat dikala manusia pada terlena dalam permainan dunia. Mereka yang terjaga  ketika manusia sedang asyik tidur dengan lelapnya.” (HR.Ahmad ).

Kemudian, juga dianggap aneh adalah mereka yang tetap mengikuti jalan lurus ketika manusia banyak dalam kesesatan tanpa arah. Mereka yang tidak tunduk kecuali kepada Allah Swt.. Mereka yang memilih jalan dakwah dan jihad sebagai syiar dalam kehidupannya.  Mereka adalah Tentara Allah, jalan mereka adalah jalan yang telah dijamin oleh Rabb-Nya yang memperjuangkan Islam. Memang telah terlihat tanda-tanda itu, kian kemari di penghujung akhir zaman yang banyak justru bukan orang  aneh, tetapi adalah orang-orang yang menurut mereka adalah orang yang lurus jalannya.

Padahal, apa yang dilakukan mereka itu adalah jauh dari harapan Allah dan Rasul-Nya. Orang lebih bangga bermaksiat ketimbang mengerjakan amal kebaikan. Orang lebih menikmati yang haram daripada yang halal.  Bila kita bicara yang baik dan menceritakan bagaimana beprilaku dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Islam, maka ada saja yang mencemooh dan berkata.”Zaman now adalah zaman kebebasan dan semua orang bebas melakukan sesuai seleranya. Kalau kata pepatah, “Dunia sudah kebalik– balik.”.  Kini, tiga belas abad setelah wafatnya Rasulullah, delapan puluh enam tahun sesudah berakhirnya periode kekhalifahan (masa kejayaan Islam), Islam kembali menjadi suatu ajaran yang dianggap asing. Tidak hanya di kalangan non-muslim, bahkan umat muslim sendiri merasa asing dengan keislamannya.

Ajaran Islam (syariat Islam) kembali dianggap aneh oleh masyarakat, yang notabenenya mengaku muslim. Contohnya; Islam sangat menganjurkan bersalaman dengan sesama muslim dimanapun mereka bertemu karena bersalaman dapat menggugurkan dosa. Namun sekarang, bersalaman ketika bertemu di jalan atau di mana saja dianggap aneh dan tak lazim. Contoh lain; umat Islam yang berjenggot dianggap berlebihan.

Baca juga:   Jika Ingin Hidup Tenang, Bersedekahlah

Padahal nabi menganjurkan lewat hadistnya; “Berbedalah kalian dengan orang-orang musyrik, pendekkanlah kumis, dan panjangkanlah jenggot (dalam hal ini, jenggot yang rapi).” (HR.Muslim). Selain itu, wanita yang menggunakan pakaian dan kerudung untuk menutupi aurat secara sempurna dianggap sok alim dan sok suci. Banyak lagi hal-hal yang dianjurkan Islam namun dianggap asing oleh umat islam itu sendiri.

Rasulullah telah meramalkan bahwa hal tersebut akan terjadi. Sebagaimana sabdanya; “Sesungguhnya Islam permulaan (datang) dalam keadaan asing dan akan kembali asing. Maka berbahagialah bagi mereka yang (dianggap) asing.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka (yang dianggap) asing itu? Beliau menjawab : “orang-orang yang berbuat baik di kala rusaknya manusia”. (HR. Muslim).

Prediksi tersebut telah nampak dan dapat dirasakan pada saat ini. Banyak umat yang mengaku-ngaku muslim tidak peduli dengan halal dan haram dalam hakikat yang sebenarnya. Al-Qur’an telah secara gamblang menjelaskan bahwa meminum khamar itu adalah haram. Tapi, umat Islam pada zaman ini tetap saja melanggarnya. Korupsi itu haram. Zina itu haram. Selain itu, umat Islam kebanyakan mudah menerima dan melakukan bid’ah. Misalnya ada orang Islam yang mau melakukan semedi di kuburan untuk meminta berkah kesehatan, kekayaan dan kebahagiaan dunia lainnya.

Ditengah kemelut kemunduran itulah, umat Islam yang taat menjadi terasing. Umat Islam yang menjalankan syariat dengan cara Al-Qur’an dan Hadist, mereka dipandang aneh dan dianggap berlebihan dalam menjalankan perintah agama. Pandangan itu pun muncul dari umat muslim itu sendiri. Pertahanan keagamaan mereka, yang dianggap asing ini, diuji dengan tantangan dari berbagai arah.

Seperti yang disampaikan Nabi Muhammad Saw., “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Muslim sejati harus melakukan pengorbanan yang berat, membiarkan tangannya terbakar oleh bara api. Bara kebenaran harus dipegang teguh, karena itu adalah perintah dan jalan keselamatan. Jika ia dilepas, berarti lepaslah agama. Bara itu tidak boleh digenggam dengan tanggung-tanggung. Akan tetapi, ia harus digenggam erat, agar panas bara meredup dan yang tersisa hanyalah kebahagian yang menyongsong pahala. Rasulullah melanjutkan, “Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu.” (HR. Abu Dawud).

Berbahagialah orang-orang yang dianggap asing di antara orang-orang yang telah rusak di akhir zaman. Mengapa hingga sekarang, ketika manusia, umat muslim khususnya telah berada pada puncak ilmu pengetahuan malah mengasingkan ajaran agamanya?

Baca juga:   Sebut Kalimat yang Lemahlembut dan Indah Saat Berbicara dengan Anak-Anak

Dalam sebuah tulisan Dedy Supendra di ganto.co, menyebut ada beberapa sebab. Pertama, Umat Islam ogah-ogahan memperlajari Islam. Porsi pembelajaran agama lebih sedikit dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Hal ini dapat menyebabkan ketidakpahaman generasi muslim terhadap ajaran yang dianutnya sehingga mereka tidak dapat menjalankan agama dengan baik dan benar.

Kedua, pecah belah yang terjadi di antara sesama umat Islam. Banyaknya aliran yang berbeda pemikiran dan pemahamannya, sehingga mereka digolongkan aliran sesat. Seperti halnya Ahmadiyah, Eden, dan lain sebagainya. Ketiga, globalisasi pemikiran dan budaya. Faktor ketiga sangat berpengaruh pada dua faktor terdahulu. Globalisasi yang didominasi oleh dunia barat dapat berdampak pada lemahnya pertahanan umat Islam akan keislamannya. Globalisasi menyusup perlahan-lahan ke dalam pemikiran-pemikiran umat yang lemah imannya. Globalisasi bercampur dalam budaya-budaya keislaman sehingga terkadang suatu budaya islami dianggap ketinggalan dan direndahkan oleh kaum muslim sendiri, meskipun itu merupakan suatu kewajiban. Contohnya menjawab salam telah berganti dengan kata sapaan ala barat atau malah bercipika-cipiki dengan yang bukan muhrim. Globalisasi dunia barat semakin mudah masuk ke dalam zona suci umat Islam karena umat Islam yang tercerai-berai dengan pemikiran yang tak sama pula.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu..” (QS. Al-Baqarah [2]: 120).

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan umat islam di zaman keterasingan ini? Agar cahaya iman tetap menyala dalam kehidupan, memperbanyak dan memperbaiki pola berpikir terhadap pemahaman Islam adalah salah satu cara yang mesti dilakukan. Berpikir adalah proses terakhir setelah umat Islam tahu dan belajar. Sebab, jika hanya tahu saja tentang Islam, tapi belum menyempatkan diri untuk mempelajari islam secara kaffah, maka besar kemungkinan umat Islam tak akan pernah bisa mencapai derajat berpikir yang tinggi.

Untuk orang-orang yang menganggap Islam sebagai agama yang asing, sehingga mereka memiliki ketertarikan maka, Allah berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan [25]: 63).(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button